JAKARTA(Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa, Babeh Dzikrullah, mengatakan untuk membawa Indonesia unggul, kader muda bangsa, terutama Pemuda Hidayatullah harus memiliki penguasaan yang mendalam tentang "wawasan nusantara." "Pemuda Hidayatullah harus menguasai narasi wawasan kebangsaan, ketahanan nasional, dan konsolidasi teritorial Indonesia, sebaik mungkin
BERIKUTnaskah khutbah Idul Adha 1443 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin.
MasaPPKM Darurat, shalat Idul Adha di rumah lebih baik demi mencegah penularan Covid-19. M Alvin Nur Choironi 19 Juli 2021 1001. Dalam situasi normal, shalat Idul Adha memang dianjurkan berjamaah di masjid atau di lapangan terbuka, sekaligus sebagai syiar. Tetapi dalam situasi PPKM Darurat seperti saat ini, khususnya bagi zona merah, shalat
IdulAdha 1442 H di Bonn Jerman dilaksanakan pada Selasa (20/07), dengan penuh khidmat. Perayaan Idul Adha adalah momen mempererat tali silaturahmi antar komunitas muslim yang ada di Jerman, khususnya di kota Bonn. Kasus pandemi korona di negara Jerman telah menurun drastis dan sebagian masyarakat telah divaksin.
KhutbahIdul Adha di Kampus IIUM Bahas Nasib Umat Islam Korban Media Bagikan: Hidayatullah.com- Sebagaimana halnya penetapan pemerintah Indonesia, Idul Adha 10 Dzulhijjah 1435 H di Negeri Jiran Malaysia bertepatan dengan hari Ahad, 5 Oktober 2014.
Bacajuga teks khutbah Idul Adha yang lain di sini. M Alvin Nur Choironi. Redaktur Islamidotco, alumni Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pegiat kajian tafsir dan hadis. Beralamat di Twitter: @alvinnurch. Topik: ekologi hajar ibrahim Ismail keluarga khutbah idul adha Qurban tauhid.
ifqHQVw. Khutbah I اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَاتَ وَ أَحْيَى. اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكِرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا. وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَ حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَنْ اِتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْجَزَا. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ. وقَالَ أَيْضاً إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, Ada dua peristiwa penting yang tidak bisa lepas dari Hari Raya Idul Adha. Kedua peristiwa tersebut adalah ibadah Haji dan Kurban. Namun pada situasi saat ini, kedua ibadah tersebut harus dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum mereda. Tentunya ketentuan Allah subhanahu wata'ala ini tidak boleh serta merta menurunkan semangat spiritual kita sebagai umat Islam. Kita harus meyakini bahwa selalu ada hikmah besar yang terkandung dari setiap ketetapan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata'ala. Seperti kita ketahui bersama, akibat pandemi Covid-19 yang mewabah di berbagai penjuru dunia. Jamaah Haji Indonesia tahun 2020 tidak diberangkatkan ke Tanah Suci. Hal ini dilakukan pemerintah untuk menjaga keselamatan jiwa jamaah dari tertular virus Corona. Pemerintah Arab Saudi pun tidak mengizinkan jamaah dari luar negeri untuk menjalankan rukun Islam kelima ini. Hanya warga Arab Saudi dan warga Asing yang berada di Arab Saudi saja yang diperkenankan melaksanakan ibadah Haji. Dan itu pun dengan pembatasan jumlah dan peraturan yang sangat ketat. Bagi calon jamaah haji tahun 2020, keputusan ini tentu sangat berat untuk diterima. Setelah sekian lama menunggu antrean kuota haji dengan berbagai macam usaha untuk melunasi ongkos naik haji ONH, namun giliran saatnya berangkat harus mengalami penundaan. Namun ada hikmah besar yang bisa diambil dari keputusan ini di antaranya adalah kesabaran dan kepasrahan. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Qur’an Surat Al-Anfal ayat 46 وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, Kesabaran sendiri adalah sikap yang paling dibutuhkan dalam menjalankan ibadah haji. Dalam ibadah haji, kesabaran juga bisa menjadi ukuran mabrur atau tidaknya haji yang dilaksanakan. Hampir seluruh rangkaian ibadah haji membutuhkan kesabaran mulai dari pendaftaran sampai dengan pelaksanaan dan kembali ke Tanah Air. Tanpa kesabaran, jamaah haji tidak akan mungkin mampu melewati rangkaian ibadah yang memerlukan kekuatan mental dan fisik seperti tawaf, sa'i, wukuf di Arafah, dan melempar jumrah. Ini memberikan hikmah kepada calon jamaah haji yang ditunda keberangkatannya, untuk semakin melatih kesabaran sebelum waktunya berangkat nanti. Insyaallah kesabaran dalam menerima penundaan ini nantinya akan menjadi wasilah kemabruran haji kelak. Hikmah kedua adalah kepasrahan atau tawakkal kepada Allah subhanahu wata'ala. Terkait dengan hal ini Allah subhanahu wata'ala pun telah memberikan panduan, jika kita memiliki tekad bulat dalam melaksanakan sesuatu, maka kita harus pasrah diri kepada Allah subhanahu wata'ala. Hal ini termaktub dalam QS Ali Imran ayat 159 فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” Dengan ditundanya haji tahun ini, para calon jamaah haji harus yakin dan pasrah pada Allah karena ini juga merupakan ketetapan Allah. Haji sendiri adalah ibadah yang harus diawali dengan kepasrahan karena harus pergi jauh meninggalkan orang-orang yang dicintai dan harus berjuang menyelesaikan rangkaian kewajiban dan rukun haji. Kain ihram warna putih yang dipakai jamaah pun sudah menandai bahwa para jamaah Haji pasrah atas takdir Allah seperti mayit yang terbungkus kain kafan. Dengan kepasrahan ini tentunya akan menjadikan para calon jamaah haji lebih tenang dalam beribadah. Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, Ibadah kedua yang kita lakukan di tengah pandemi adalah ibadah kurban. Di tengah wabah ini, ibadah kurban akan lebih bermakna dan terasa bagi masyarakat ekonomi lemah. Selama pandemi, berbagai sektor tak terkecuali sektor ekonomi ikut terkena imbas. Banyak masyarakat yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya karena harus kehilangan mata pencarian. Kurban bisa menjadi bukti kepekaan sosial masyarakat mampu terhadap yang lemah. Kurban semakin memberikan kesadaran kepada kita, bahwa harta yang kita miliki bukanlah mutlak milik kita. Harta dan materi di dunia hanya titipan dari Allah subhanahu wata'ala yang di dalamnya terdapat hak orang lain. Kenikmatan yang kita rasakan tidak akan berkurang sedikitpun ketika harus dibagi dengan orang lain melalui pembelian hewan kurban. Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya hakikat memberi adalah menerima. Manusia tidak perlu khawatir karena nikmat Allah subhanahu wata'ala sangatlah banyak. Saking banyaknya nikmat Allah, kita tidak akan bisa menghitungnya. Allah subhanahu wata'ala berfirman وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS An-Nahl 18 Dengan pengorbanan harta melalui hewan kurban ini, kita juga akan mampu semakin dekat dengan Allah subhanahu wata'ala. Hal ini selaras dengan makna kurban itu sendiri yakni berasal dari bahasa Arab qariba-yaqrabu -qurban wa qurbanan wa qirbanan,yang artinya dekat. Sehingga kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, Dari hal ini kita bisa menarik dua hikmah dari ibadah kurban di masa pandemi. Yang pertama adalah hikmah vertikal, yakni semakin dekatnya kita kepada Allah subhanahu wata'ala, dan hikmah horizontal yakni kedekatan dengan sesama manusia dengan saling berbagi rezeki di tengah situasi sulit akibat pandemi ini. Wallahu a’lam. بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم Khutbah II اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ Muhammad Faizin, Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung
Naskah khutbah Idul Adha menjelaskan betapa bermaknanya diberikan kesempatan untuk hadir dalam shalat Id. Tidak semata bertemu dengan keluarga, tetangga dan teman yang demikian lama tidak bertegur sapa karena kegiatan. Yang terpenting dari khutbah Idul Adha ini adalah kesempatan meneladani kisah dan pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim sehingga melahirkan generasi terbaik. Besar harapan, Idul Adha memberikan pengaruh besar kepada umat Islam untuk terus berupaya menangkap aneka nilai yang memang tidak dapat dipisahkan dari tradisi kurban. Dan hal tersebut hendaknya terus berupaya dicamkan agar Idul Adha tidak semata seremonial tanpa bisa menangkap makna terbaik. Dan naskah khutbah ini dapat digandakan. Demikian pula bisa disebar kepada khalayak agar pesan moralnya dapat ditangkap sebagai bekal dalam menyiapkan generasi yang diharapkan di masa mendatang. Redaksi. Khutbah I اللهُ اَكْبَرْ 3× اللهُ اَكْبَرْ 3× اللهُ اَكبَرْ 3× اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ.. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah Marilah selalu memanjatkan syukur kepada Allah SWT karena pada pagi hari ini kita masih diberikan karunia untuk melakukan shalat Idul Adha di masjid yang penuh berkah. Demikian pula diberikan kesempatan bertemu keluarga, sahabat, tetangga yang mungkin jarang kita temui di hari biasa. Karenanya, ini adalah waktu istimewa yang disediakan untuk kita, umat Islam. Karenanya, mari aneka nikmat yang ada kita pergunakan dengan sebaik mungkin untuk meningkatkan takwallah yang diwujudkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hadirin yang Berbahagia Baru saja rebahkan diri kita, bersimpuh di depan pintu kebesaran Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Baru saja kita mengakhiri shalat dengan menyebarkan salam sejahtera kepada semua makhluk sekitar. Sejak tadi malam sampai pagi ini, kita memenuhi langit dengan suara takbir. Allahu akbar allahu akbar allahu akbar la ilahaillahu allahu akbar. Allahu akbar walillahil hamdu. Di belahan dunia lain, di Mekah al-Mukkaramah, di hari-hari ini, jutaan umat Islam dari segenap penjuru dunia berdatangan dan berkumpul di Tanah Suci melakukan ibadah haji. Gemuruh dan gema kaum muslimin dan muslimat yang sedang menunaikan ibadah haji menyambut panggilan ilahi dengan mengucapkan talbiyah. Labbaikallahuma labbaik. Labbaika la syarika laa labbaik. Innal hamda wan nikmata la wal mulk la syarika laka. Maasyiral Muslimin yang Dirahmati Allah Idul Ahda yang khas dengan ibadah kurban merupakan bentuk rasa syukur pada Allah. Demikian ini karena banyaknya Allah telah melimpahkan anugerah. Kita telah diberi banyak hal oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Anggota tubuh yang kita miliki dari mulai kepala, telinga, tangan, kaki, hidung, dan lain-lain. Semuanya adalah nikmat yang tidak mungkin terbeli. Jika dihitung berapa harganya, pastilah tidak bisa dinominalkan. Pastilah bermiliar-miliar. Demikian juga, udara yang dihirup, biji-bijian yang dimakan, kendaraan yang ditumpangi, semuanya disediakan oleh Allah Subhanahu Wa Taala Yang Maha-Pengasih dan Maha-Penyayang untuk manusia. Wallahu khalaqa lakum ma fil ardli jami’a. Allah Subhanahu Wa Taala telah menciptakan yang ada di dunia untuk kalian semua. Semua kalau dihitung dengan nominal angka manusia, pasti tiada terhingga. Tentang syukur ini, Allah berfirman وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Artinya Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan telah terikat. Kemudian apabila telah roboh mati, maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya yang tidak meminta-minta dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. QS. Al-Hajj 36. Maasyiral Muslimin Rahimakumullah Hari Raya Idul Adha selalu saja menjadi rekonstruksi sejarah masa lampau. Sejarah kehidupan figur-figur agung para kekasih Allah Subhanahu Wa Taala, yaitu figur Nabiyullah Ibrahim 'Alaihis Salam, figur sang anak hebat Nabi Ismail, dan figur sang ibu luar biasa, Siti Hajar. Prosesi yang mengharu biru sejarah umat manusia adalah penyembelihan Nabiyullah Ibrahim AS pada putra tercintanya Nabi Ismail yang akhirnya diganti kambing oleh Allah. Selain sebagai bentuk kepatuhan pada titah Allah SWT, ibadah kurban adalah merupakan bentuk solidaritas atas sesama yang tercecer dari mobilitas sosial. Untuk mereka, yakni orang-orang fakir dan miskin. Apalagi, di tengah kondisi perekonomian yang lesu di negara Indonesia imbas Covid-19, juga nilai tukar rupiah yang anjlok di kisaran dan menyebabkan makin sulitnya kehidupan saudara-saudara kita, adalah kewajiban untuk membantu. Nabi SAW sangat mengecam keras orang yang enggan berkurban, karena dalam Islam ibadah kurban bukan hanya ritus persembahan untuk meningkatkan spritualitas seseorang atau juga bukan tontonan kesalihan orang kaya semata. Namun, lebih dari itu, kurban adalah dalam rangka memperkuat kepekaan sosial, menyantuni fakir miskin dan membuat gembira orang sengsara. Kurban mencerminkan pesan Islam bahwa seseorang hanya dapat taqarrub kepada Allah, bila ia sebelumnya telah dekat dengan saudara-saudaranya yang kekurangan. Hadirin yang Dirahmati Allah Selain itu, ada beberapa hal yang dapat kita petik dalam sirah dan kehidupan agung Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Pelajaran pertama adalah pertanyaan Allah Subhanahu Wa Taala pada Nabi Ibrahim, faiana tadzhabun. Ketika Nabi Ibrahim yang dikenal kara raya dengan seribu ekor domba, tiga ratus ekor lembu, dan seratus ekor unta, beliau ditanya Hendak ke mana ia pergi? Maka beliau menjawab Inni dzahibun ila rabbi sayahdin. QS At-Takwir 26. Artinya Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia memberi petunjuk padaku. Bagi Ibrahim, tujuan akhir hidup manusia bukan kekayaan, bukan pangkat, bukan jabatan dan sebagainya, tetapi tujuan hidup manusia adalah Allah Subhanahu Wa Taala. Karena seperti dimaklumi sebagai sunnatullah, manusia selalu bergerak sesuai naluri bawaan, ingin memperluas wawasan dan pengalaman hidupnya. Untuk memfasilitasi manusia, maka diciptakanlah berbagai sarana kehidupan mulai dari sandal, sepatu, jalan, kendaraan hingga peralatan yang lain agar manusia bisa hidup dengan nyaman. Manusia membangun jembatan, menggunakan jalur lautan dan juga udara. Manusia juga mengapling-kapling lautan dan udara sedemikian rupa sehingga mengurangi kemacetan di daratan. Jamaah Shalat Id yang Mulia Dalam perjalanan dan pengembaraan manusia secara fisik untuk mengetahui luasnya dunia, pada akhirnya terhambat secara teknis. Kemacetan tetap terjadi di daratan, lautan maupun udara. Oleh karena itu, manusia menciptakan internet dan teknologi fotografi serta televisi. Di masa sekarang, manusia hanya dengan duduk di komputer atau televisi, mereka sudah dapat menjangkau dunia yang lebih luas dan warna-warni, meskipun disajikan dalam bentuk potongan gambar, rekaman video atau foto. Mereka menyebutnya sebagai sebuah keniscayaan di era visual age. Islam –seperti diperlihatkan Nabi Ibrahim—mentrandensikan jalan menuju Tuhan sebagai jalan kebahagiaan dan jalan menuju akhirat. Islam memberikan dimensi moral spritual agar aktivitas manusia memiliki tujuan yang lebih bermakna, bukan sekadar mobilitas fisik tanpa tujuan yang bersifat ilahi. Pertanyaan Allah pada Nabi Ibrahim adalah pertanyaan moral yang penuh makna Hendak dibawa ke mana harta kita? Hendak dibawa mobil kita? Hendak dibawa ke mana jabatan kita? Hendak dibawa ke mana pangkat kita? Hendak dibawa ke mana ilmu kita? Hendak dibawa ke mana tubuh kita? Di tengah hiruk pikuk manusia dengan berbagai aktivitasnya, maka menjadi penting untuk menanyakan kembali pertanyaan Ibrahim AS. Karena bisa jadi, yang primer bagi manusia secara faktual dewasa ini adalah avoiding the pain, menghindari apa pun yang menyakitkan. Lalu juga looking for the pleasure, mengejar apa pun yang dirasakan menyenangkan. Sehingga yang muncul hanyalah kehidupan materi duniawi belaka. Sebagaimana dikatakan oleh Prof Komarudin Hidayat, bahwa salah satu dimensi dan misi manusia sebagai moral being adalah menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupannya di manapun berada. Moral being ini harus diwujudkan dalam ruang-ruang kantor, di kamar rumah, di masjid, di restoran, di warung kopi dan sebagainya. Tujuan hidup kita, lagi-lagi seperti teladan Nabi Ibrahim, adalah harus tertuju pada Allah. Tuhan semesta alam. Inna shalati wa nusuki wamahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin. Sesungguhnya shalatku, matiku, hidupku adalah untuk Allah. Setiap shalat, kita sudah seringkali mengikrarkan dalam lisan. Hadirin yang Dimuliakan Allah Pelajaran berharga lainnya yang bisa diteladani dari Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam adalah bahwa tujuan tertinggi manusia seperti doanya. Rabbi hab li minasshalihin. Ya Allah berilah kami anak-anak yang salih. Nabi Ibrahim meminta anak yang salih. Bukan anak yang pintar, bukan anak yang kaya raya. Bukan anak yang punya jabatan luar biasa. Bukan anak yang punya pangkat setinggi langit. Karena apalah arti anak kaya, anak berpangkat dan jabatan, anak yang pintar tapi mereka tidak salih. Karena itu, kata kuncinya adalah anak salih. Untuk mewujudkan anak yang salih, tentu bukan hal mudah. Pertama keluarga adalah hal utama dan pertama dalam mewujudkan anak salih. Jangan remehkan peran keluarga. Anak yang salih dan salihah, pasti tidak luput dalam pendidikan keluarga sejak dini seperti dilakukan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Keduanya berjibaku membentuk karakter Ismail sedemikian rupa. Mereka mengajarkan pendidikan agama pada Ismail sejak dini. Ini sama dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mendidik anak-anak muslim Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara Mencintai nabimu, mencintai ahlu baitnya dan membaca Al-Qur’an. HR Tabrani. Dan sahabat Ali pernah berkata ْعَلِّمُوْا اَوْلَادَكُمْ فَاِنَّهُمْ مَخْلُوْقُوْنَ فِي زَمَانِ غَيْرِ زَمَانِكُم Artinya Didiklah anak-anakmu karena mereka hidup di zaman yang tidak sama dengan zamanmu. Jamaah yang Berbahagia Kedua, memberi keteladanan uswah kepada anak-anak kita. Bagaimana pun, keteladanan merupakan dakwah yang sangat manjur dalam mengarahkan anak. Dengan keteladanan yang ditampakkan sehari-hari, maka yang demikian ini akan mempengaruhi anak-anak. Keluarga yang mempertontonkan kejujuran dan kedermawanan akan berpengaruh bagi anaknya. Sebaliknya, keluarga yang mempertontonkan kedustaan dan kebakhilan juga akan anaknya meniru. Karena itu, Abdullah Nasih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad, mengutip syair Abul Aswad Adduwali yang melontarkan kecaman bagi pengajar atau orang tua yang tindak tanduknya bertentangan dengan ucapannya يا أَيُّها الرَجُلُ المُعَلِّمُ غَيرَهُ هَلَّا لِنَفسِكَ كانَ ذا التَعليمُ تَصِفُ الدَّواءَ لِذي السَّقامِ وَذي الضَّنا كَيْمَا يَصِحُّ بِهِ وَأَنتَ سَقيمُ وَتَراكَ تُصْلِحُ بالرَّشادِ عُقولَنا أَبَداً وَأَنتَ مِن الرَّشادِ عَدِيْمُ فَابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَانْهَهَا عَن غَيِّهَا فَإِذَا اِنتَهَتْ عَنهُ فَأنْتَ حَكيمُ فَهُناكَ يُقبَلُ مَا تَقولُ وَيَهتَدِي بِالقَولِ مِنْك وَيَنْفَعُ التَّعْلِيْمُ Artinya Wahai orang yang mengajar orang lain Kenapa engkau tidak juga menyadari dirimu sendiri. Engkau terangkan bermacam obat bagi segala penyakit agar semua yang sakit sembuh. Sedang engkau sendiri ditimpa sakit. Obatilah dirimu dahulu. Lalu cegahlah agar tidak menular pada orang lain. Dengan demikian, engkau adalah seorang yang bijak. Apa yang engkau nasihatkan akan mereka terima dan ikuti, ilmu yang engkau ajarkan akan bermanfaat bagi mereka. Ketiga, kumpulkan anak-anak kita dengan teman-teman yang baik atau teman yang salih atau salihah. Teori habitus yang disampaikan oleh Pierre Bordieu menunjukkan bahwa habitus, tempat di mana kita berada, sangat berpengaruh pada manusia, pada anak-anak dan juga kepada adik-adik kita. Bordie menyebut habitus sebagai “struktur yang terstruktur”. Habitus adalah “lingkungan dari kekuatan yang ada”. Almarhum KH Abdul Muchith Muzadi, selalu memberi nasihat pada orang-orang Lebih baik sekolah yang berakhalkul karimah meskipun 'tidak bermutu' daripada 'bermutu' tapi tidak berakalakul karimah. Untuk memilih pendidikan yang karena itu, carilah habitus yang baik-baik. Jangan terjerumus pada habitus yang kurang baik sehingga menyebabkan kita masuk dalam habitus tersebut. Maasyiral Muslimin Rahimakumullah Demikianlah khutbah yang saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. بسم الله الرحمن الرحيم قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّي وَ ذَكَرَ اسْمَ رَبًِهِ فَصَلَّي بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّه هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ Khutbah II الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر. الحمدُ لله أفَاضَ نِعَمَهُ عَلَيْنَا وَأَعْظَمَ. وَإنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَا, أشهَدُ أنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. أَسْبَغَ نِعَمَهُ عَلَيْنَا ظَاهِرَهَا وَبَاطِنَهَا وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبدُهُ ورَسُوْلُهُ. رَسُوْلٌ اِصْطَفَاهُ عَلَى جَمِيْعِ الْبَرِيَّاتِ. مَلَكِهَا وَإنْسِهَا وَجِنِّهَا اللهم صَلِّ وسَلًِمْ علىَ سَيًِدِنا محمدٍ وَعلىَ ألهِ وأصحابهِ أهلِ اْلكَمَالِ فِى بِقاَعِ الأرْضِ بُدُوًِهَا وقَرَاهَا .اللهم صَلَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أل سَيَّدِنا مُحَمًَدٍ. كما صَلًّيْتَ عَلَى إبراهيم وَعَلىَ ألِ إبْرَاهِيم, وبَارِكْ عَلىَ مُحَمًَدٍ وَعلىَ ألِ محمدٍ, كما بارَكْتَ عَلىَ إبْرَاهِيمَ وعَلَى ألِ إبرَاهيم فى العالَمِيْنَ إنًَكَ حميدٌ مجيدٌ اللهم اغفِرْ لِلْمسلمِيْن والمُسْلِمَاتِ والمؤمنِيْنَ والمؤمِناتِ الأحياءِ مِنْهُمْ والأمْوَاتِ. إنك سميعٌ قريبٌ مجيبُ الدًَعَوَاتِ ويَا قَاضِىَ الحَاجَاتِ. اللهم وَفَّقْنَا لِعَمَلٍ صَالِحٍ يَبْقَى نَفْعُهُ عَلىَ مَمَرِّ الدُّهُورِ. وجَنَّبْنا مِنَ النَّوَاهِى وَأعمَالٍ هِىَ تَبُوْر. اللهم أصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا. وبارِكْ لنا فِى عُلُوْمِنا وأعْمَالِنا. اللهم أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنا. ربنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رحمةً إنكَ أنْتَ الوَهابُ. ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار عبادَ الله! إنًَ اللهَ يَأمُرُكمْ بالعَدْلِ والإحسَانِ وإيتاءِ ذِى القُرْبىَ ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ والمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلًَكُمْ تَذَكًَرُون. فَاذْكُرُوا الله يَذْكُرْكُم واشكُرُوا عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ .ولَذِكْرُ اللهِ أكبَر
- Simak berikut ini contoh teks khutbah Idul Adha singkat dan mengharukan, memaknai soal berkurban. Lebaran Idul Adha 2023 sudah di depan mata. Dalam merayakan Hari Raya Idul Adha, tentu saja Umat Islam akan melaksanakan salat ied seperti Idul Fitri. Salat ied tersebut tentu saja tak terlepas dari pembacaan khutbah. Berikut ini, khutbah yang merupakan pidato yang biasanya dilaksanakan sebelum salat yang dikutip dari laman Baca juga 55 Ucapan Idul Adha 2023 Terbaru dan Menyentuh Hati, Cocok untuk Keluarga dan Rekan Kantor Khutbah I اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Perayaan Idul Adha selalu menjadi momen spesial bagi umat Islam sedunia. Setidaknya ada dua hal pokok yang selalu menonjol dalam momen tersebut; pertama, ibadah haji. Jutaan Mulim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci untuk memenuhi rukun Islam yang kelima. Kedua, pelaksanaan kurban atau penyembelihan sejumlah binatang ternak. Kesempatan ini sebagai bentuk solidaritas pelaksana kurban kepada kaum fakir, miskin, kerabat, dan tetangga sekitar dengan berbagi daging sesembelihan. Kedua pelaksanaan ibadah tersebut tak bisa dilepaskan dari sejarah dan ajaran Nabi Ibrahim dan keluarganya. Meski tiap tahun Idul Adha dirayakan, sepertinya hanya sebagian kecil saja dari kita meneladani Nabi Ibrahim dalam kehidupan sehari-hari. Kita seperti selalu baru ingat keteladanan tersebut menjelang Idul Adha. Sehingga ajarannya pun dilaksanakan hanya tiap tahun. Padahal, esensi ajaran beliau, terutama soal berkurban, memiliki makna yang luas dan bisa diterapkan dalam jangka waktu tak terbatas. Jamaah shalat Jum’at hadakumullah, Seperti sering diceramahkan di panggung-panggung dakwah dan mimbar-mimbar khutbah, peristiwa hari raya kurban merujuk pada kisah diperintahkannya Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya, Ismail.
Dr. Abu Fayadh Muhammad Faisal, I, Agama Thursday, 15 Jul 2021, 1027 WIB Khutbah Iedul Adha 1442 H "Menyambut Iedul Qurban/Adha" KHUTBAH Iedul Qurban/Adha بس٠اÙÙÙ Ø§ÙØ±ØÙ Ù Ø§ÙØ±ØÙÙ *Menyambut Idul Qurban/Adha* Ditulis Oleh *Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, I* Aktivis Pendidikan dan Kemanusiaan, Praktisi dan Pengamat PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat Assalamu'alaikum Warohmatulloh wabarakatuh اÙÙÙØÙÙ ÙØ¯Ù ÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØÙÙ ÙØ¯ÙÙÙ ÙÙÙÙØ³ÙØªÙØ¹ÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ³ÙØªÙØºÙÙÙØ±ÙÙÙ ÙÙÙÙØ¹ÙÙØ°Ù Ø¨ÙØ§ÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙ Ø´ÙØ±ÙÙØ±Ù Ø£ÙÙÙÙÙØ³ÙÙÙØ§ ÙÙÙ ÙÙ٠سÙÙÙÙØ¦ÙØ§ØªÙ Ø£ÙØ¹ÙÙ ÙØ§ÙÙÙÙØ§ Ù ÙÙÙ ÙÙÙÙØ¯ÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ§ Ù ÙØ¶ÙÙÙÙ ÙÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙØ¶ÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ§ ÙÙØ§Ø¯ÙÙÙ ÙÙÙÙ ÙÙØ£ÙØ´ÙÙÙØ¯Ù Ø£ÙÙÙ ÙØ§Ù Ø¥ÙÙÙÙ٠إÙÙØ§Ù٠اÙÙÙÙÙÙ ÙÙØÙØ¯ÙÙÙ ÙÙØ§ Ø´ÙØ±ÙÙÙÙ ÙÙÙÙ ÙÙØ£ÙÙÙÙ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ùا Ø¹ÙØ¨ÙدÙÙÙ ÙÙØ±ÙسÙÙÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù٠صÙÙÙÙ Ù٠سÙÙÙÙ٠٠عÙÙÙÙ ÙÙØ¨ÙÙÙÙÙÙØ§ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙÙÙÙ ÙÙØµÙØÙبÙÙÙ Ø£ÙØ¬ÙÙ ÙØ¹ÙÙÙÙ٠أÙÙ ÙÙØ§ Ø¨ÙØ¹Ùد٠Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar. Laailaahailallohu wallahu akbar. Allohu akbar walillahil hamd. Maâaasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat âIed yang berbahagia! Pertama-tama marilah kita memanjatkan puja dan puji syukur kepada Alloh yang telah melimpahkan kepada kita nikmat yang begitu banyak. Saking banyaknya nikmat yang diberikan, sehingga jika kita menghitung nikmat-nikmat-Nya tentu kita tidak akan sanggup menghitungnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita syukuri nikmat-nikmat tersebut agar nikmat tersebut tidak dicabut dan bahkan diberikan keberkahan sehingga bertambah. Sebaliknya, jika kita kufuri nikmat-nikmat tersebut, seperti tidak mau mengakui nikmat tersebut berasal dari Alloh atau menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya, maka cepat atau lambat, Alloh akan mencabutnya ditambah lagi dengan dicatat sebagai dosa. Banyak contoh yang membuktikan hal ini, seperti yang dialami oleh kaum Sabaâ yang Alloh berikan kepada mereka kenikmatan dunia, saat mereka kufur terhadap nikmat yang Alloh berikan, maka kenikmatan tersebut Alloh cabut, Dia mengirimkan banjir besar kepada mereka dan mengganti kebun-kebun mereka yang sebelumnya menghasilkan buah-buahan yang enak dimakan berubah menjadi kebun-kebun yang buahnya terasa pahit. Demikian pula yang dialami Qarun yang dikaruniakan oleh Alloh harta yang banyak. Ia tidak bersyukur kepada Alloh atas nikmat tersebut, bahkan mengatakan, bahwa kekayaan yang diperoleh itu adalah karena kepandaiannya, sehingga Alloh membenamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi. Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang mau mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain. Maâaasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat âIed yang berbahagia! Saat ini kita berada di salah satu hari raya umat Islam, yaitu Idul Adh-ha; hari di mana kita disyariatkan berkurban. Hari raya ini, Alloh sebut dalam kitab-Nya dengan nama hari Haji Akbar lihat surah At Taubah 3. Disebut demikian, karena sebagian besar amalan haji dilakukan pada hari ini. Oleh karena itu, hari ini yakni hari nahar adalah hari yang paling agung di sisi Alloh. Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda Ø¥ÙÙÙÙ Ø£ÙØ¹ÙظÙ٠٠اÙÙØ£ÙÙÙÙØ§Ù ٠عÙÙÙØ¯Ù اÙÙÙÙ ØªÙØ¹ÙاÙÙÙ ÙÙÙÙ٠٠اÙÙÙÙØÙØ±Ù ØÙÙ ÙÙ ÙÙÙÙ٠٠اÙÙÙØ±ÙÙ "Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Ta'ala adalah hari nahar 10 Dzulhijjah kemudian hari qar hari setelahnya." HR. Abu Dawud dengan isnad yang jayyid, takhrij Al Misykaat 2/810 Bahkan hari raya Idul Adh-ha lebih utama daripada hari Idul Fitri karena di hari Idul Adh-ha terdapat shalat Ied dan berkurban, sedangkan dalam Idul Fitri terdapat shalat Ied dan bersedekah, dan berkurban jelas lebih utama daripada bersedekah. Maâaasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat âIed yang berbahagia! Termasuk rahmat Alloh dan kebijaksanaan-Nya adalah apabila Dia mensyariatkan suatu amal saleh, Dia mengajak semua orang melakukannya, dan jika di antara mereka ada yang tidak sanggup melakukannya, maka Dia mensyariatkan amal saleh yang lain sehingga mereka yang tidak mampu melakukannya tetap memperoleh pahala, di mana dengan amal saleh tersebut, Alloh mengangkat derajat mereka dan menambah pahalanya. Contohnya adalah barang siapa yang tidak mampu berwuquf di âArafah, maka Alloh mensyariatkan baginya puasa âArafah tanggal 9 Dzulhijjah yang menghapuskan dosa yang dikerjakan di tahun yang lalu dan yang akan datang, demikian pula mensyariatkan untuknya berkumpul pada hari Idul Adh-ha untuk shalat Ied, berdzikr, dan berkurban.. Maâaasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat âIed yang berbahagia! Sesungguhnya di antara amalan yang disyariatkan Alloh pada hari raya ini adalah berkurban. Berkurban adalah amalan yang utama, karena di sana seseorang mengorbankan harta yang dicintainya karena Alloh; yang menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan kecintaan Alloh daripada apa yang disenangi hawa nafsunya. Berkurban memiliki banyak hikmah, di antaranya adalah sebagai rasa syukur kepada Alloh, membantu fakir-miskin dan menghibur mereka, merekatkan hubungan antara orang kaya dengan orang miskin, dan hikmah-hikmah lainnya yang begitu banyak. Maâaasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat âIed yang berbahagia! Kurban merupakan sunah bapak para nabi, yaitu Ibrahim âalaihis salam yang diperkuat oleh syariâat yang dibawa Nabi Muhammad shallallohu 'alaihi wa sallam. Dalam Al Qurâan, Alloh Taâala berfirman âMaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan Terj. Al Kautsar 2 Sedangkan dalam hadits diterangkan, bahwa Nabi shallallohu 'alaihi wa sallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun dan selalu HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Umar, ia Tirmidzi berkata, âHadits Menurut sebagian ulama, berkurban bagi yang mampu hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan sabda Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam Ù ÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙ ÙÙÙÙ Ø³ÙØ¹Ùة٠ÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ¶ÙØÙÙ ÙÙÙØ§Ù ÙÙÙÙØ±ÙبÙÙÙÙ Ù ÙØµÙÙØ§ÙÙÙÙØ§ âBarang siapa yang memiliki kemampuan, namun tidak mau berkurban, maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami lapangan shalat âIid.â Hadits hasan, Shahih Ibnu Majah 2532 Sedangkan yang lain berpendapat bahwa hukumnya sunat muâakkadah sunat yang sangat ditekankan beralasan dengan hadits berikut Â Ø¥ÙØ°Ùا Ø±ÙØ£ÙÙÙØªÙÙ Ù ÙÙÙØ§ÙÙ٠ذÙ٠اÙÙØÙØ¬ÙÙØ©Ù ÙÙØ£ÙØ±ÙØ§Ø¯Ù Ø£ÙØÙØ¯ÙÙÙ٠٠أÙÙÙ ÙÙØ¶ÙØÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ ÙØ³ÙÙ٠عÙÙÙ Ø´ÙØ¹ÙرÙÙÙ ÙÙØ£ÙظÙÙÙØ§Ø±ÙÙ٠» . âApabila kamu melihat hilal bulan sabit tanda tanggal satu Dzulhijjah, sedangkan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka tahanlah jangan dicabut rambut dan HR. Muslim Kata-kata âsalah seorang di antara kamu ingin berkurbanâ menunjukkan sunatnya. Namun untuk kehati-hatian, hendaknya seorang muslim tidak meninggalkannya ketika ia mampu berkurban. Maâaasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat âIed yang berbahagia Semua kebaikan dapat kita temukan ketika kita mempraktekkan petunjuk Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam dalam semua urusan kita, sedangkan semua keburukan akan kita temukan ketika kita menyelisihi petunjuk Nabi kita Muhammad shallallohu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami pun mengingatkan sedikit petunjuk Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam dalam masalah kurban. 1. Usia hewan yang dikurbankan Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda ÙØ§Ù ØªÙØ°ÙØ¨ÙØÙÙÙØ§ Ø¥ÙÙØ§ÙÙ Ù ÙØ³ÙÙÙÙØ©Ù Ø ÙÙØ¥ÙÙÙ ØªÙØ¹ÙØ³ÙØ±Ù عÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ§Ø°ÙØ¨ÙØÙÙÙØ§ Ø¬ÙØ°ÙØ¹ÙØ©Ù Ù ÙÙÙ Ø§ÙØ¶ÙÙØ£ÙÙÙ âJanganlah kamu menyembelih kecuali yang musinnah. Namun jika kamu kesulitan, maka sembelihlah biri-biri domba yang jadzaâ HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu 'anhu Maksud âmusinnahâ adalah hewan yang sudah cukup usianya. Jika berupa unta, maka usianya lima tahun. Jika berupa sapi, usianya dua tahun. Jika kambing, maka usianya setahun, dan tidak boleh usianya kurang dari yang disebutkan. Adapun jika berupa biri-biri/domba maka yang usianya setahun. Namun jika tidak ada biri-biri yang usianya setahun maka boleh yang mendekati setahun 9, 8, 7 atau 6 bulan, tidak boleh di bawah enam bulan âinilah yang dimaksud dengan jadzaâah-. 2. Hewan kurban yang utama Hewan kurban yang utama adalah hewan kurban yang gemuk, banyak dagingnya, sempurna fisik dan indah dipandang. Anas radhiyallohu 'anhu berkata, âNabi shallallohu 'alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor biri-biri yang putih bercampur hitam lagi bertanduk, Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya, mengucapkan basmalah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi hewan HR. Bukhari 3. Adab menyembelih Adabnya adalah dengan menghadap kiblat, mengucapkan basmalah dan takbir ketika hendak menyembelihnya dan berbuat ihsan dalam menyembelihnya seperti menyegarkan hewan sembelihannya, menajamkan pisau dan tidak mengasahnya di hadapan hewan tersebut. 4. Pembagian kurban Sunnahnya adalah orang yang berkurban memakan dari hewan kurbannya, menyedekahkannya kepada orang miskin dan menghadiahkan kepada kawan-kawannya atau tetangganya, berdasarkan firman Alloh Taâalla âMaka makanlah sebagian daripadanya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan Terj. Al Hajj 28 Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam juga bersabda ÙÙÙÙÙØ§ ÙÙØ£ÙØÙعÙÙ ÙÙØ§ ÙÙØ§Ø¯ÙÙØÙØ±ÙÙØ§ âMakanlah, berilah kepada orang lain dan HR. Bukhari Namun tidak mengapa disedekahkan semuanya kepada orang-orang miskin. 5. Waktu berkurban Waktunya adalah setelah shalat Ied dan berakhir sampai tenggelam matahari tanggal 13 Dzulhijjah. Termasuk sunnah Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam di hari raya Idul Adha adalah makan tidak dilakukan kecuali setelah shalat Ied, lalu menyembelih hewan kurban dan memakan dagingnya. 6. Hewan yang tidak boleh dikurbankan Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda "Ø£ÙØ±ÙØ¨ÙØ¹Ù ÙÙØ§ ØªÙØ¬ÙÙØ²Ù ÙÙ٠اÙÙØ§ÙØ¶ÙØ§ØÙ٠اÙÙÙØ¹ÙÙÙØ±Ùاء٠اÙÙÙØ¨ÙÙÙÙÙ٠عÙÙÙØ±ÙÙÙØ§, ÙÙØ§ÙÙÙ ÙØ±ÙÙØ¶Ùة٠اÙÙÙØ¨ÙÙÙÙÙÙ Ù ÙØ±ÙضÙÙÙØ§, ÙÙØ§ÙÙØ¹ÙØ±ÙØ¬Ùاء٠اÙÙÙØ¨ÙÙÙÙÙ٠ظÙÙÙØ¹ÙÙÙØ§ ÙÙØ§ÙÙØ¹ÙجÙÙÙØ§Ø¡Ù اÙÙÙÙØªÙÙ ÙÙØ§ تÙÙÙÙÙÙ" âEmpat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, yaitu hewan buta sebelah yang jelas butanya, hewan sakit yang jelas sakitnya, hewan pincang yang jelas pincangnya dan hewan kurus yang tidak bersumsum sangat kurus.â HR. Tirmidzi, ia berkata, âHasan shahihâ 7. Bertakbir Pada hari raya Idul Adha disunnahkan bertakbir, baik takbir mutlak maupun muqayyad. Alloh Subhaanahu wa Ta'aala berfirman âAgar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Alloh pada hari yang telah Terj. Al Hajj 28 Hari yang ditentukan itu adalah hari raya haji dan hari tasyriq, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Takbir mutlak adalah takbir yang tidak dibatasi waktunya, yaitu mengucapkan, âAllohu akbar-Allohu akbar. Laailaahaillallohu wallahu akbar. Allohu akbar wa lillahil dengan menjaharkan suaranya bagi laki-laki, baik di masjid, di pasar, di rumah, di jalan dan pada saat ia berangkat ke lapangan untuk shalat âIed. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dilakukan setelah shalat fardhu, yang dimulai dari fajar hari Arafah, dan berakhir sampai âAshar akhir hari tasyriq. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya, maka beliau rahimahulloh menjawab, âSegala puji bagi Alloh. Pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq tanggal 11,12,13 Dzulhijjah, dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Hal ini merupakan kesepakatan para imam yang [Majmu Al -Fatawa 24/220] Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya, bahwa Umar Radhiyallohu 'anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina bergemuruh dengan suara takbir. Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat lima waktu, di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya. Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di Termasuk hal yang perlu diketahui pula adalah bahwa pada hari-hari tasyriq kita diharamkan berpuasa kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hadyu. Hal ini berdasarkan sabda Rasululloh shallallohu 'alaihi wa sallam Ø£ÙÙÙÙØ§Ù Ù Ø§ÙØªÙÙØ´ÙرÙÙÙÙ٠أÙÙÙÙØ§Ù ٠أÙÙÙÙÙ ÙÙØ´ÙØ±ÙØ¨Ù ÙÙØ°ÙÙÙØ±Ù ÙÙÙÙÙ ØªÙØ¹ÙاÙÙÙ âHari tasyriq adalah hari makan, minum dan dzkrullah Taâ HR. Ahmad dan Muslim Demikianlah petunjuk singkat dalam menyambut Idul Qurban. Maâaasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat âIed yang berbahagia Sebagai penutup, kami ingin menghibur saudara-saudara kami yang tidak mampu untuk berkurban, bahwa sesungguhnya niat mereka untuk berkurban dicatat pahala, dan mereka pun akan mendapatkan pahala kurban. Hal ini berdasarkan sebuah hadits, bahwa Rasululloh shallallohu `alaihi wa sallam ketika menyembelih kurban bersabda Ø¨ÙØ³Ù٠٠اÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙÙÙÙ٠أÙÙÙØ¨Ùر٠ÙÙØ°Ùا عÙÙÙÙÙ ÙÙØ¹ÙÙ ÙÙÙÙ ÙÙÙ Ù ÙÙØ¶ÙØÙÙ Ù ÙÙ٠أÙÙ ÙÙØªÙÙ âBismillah wallahu Akbar, ini kurban dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih." HR. Abu Dawud, Shahih Abu Dawud no. 2436. Kita memohon kepada Alloh, semoga Dia memberikan kepada kita taufiq-Nya agar dapat mengerjakan perintah-perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, menjadikan kita istiqamah di atas takwa dan tidak meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan muslim, Allohumma amin. ÙÙØ°Ùا ÙÙØµÙÙÙÙÙÙØ§ ÙÙØ³ÙÙÙÙÙ ÙÙÙØ§ عÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ¨ÙÙÙ٠اÙÙÙ ÙØµÙØÙÙÙÙ ÙÙØ¨ÙÙÙÙÙÙØ§ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ØÙÙÙØ±Ù اÙÙÙÙØ±ÙÙ Ø ÙÙÙÙØ¯Ù Ø£ÙÙ ÙØ±ÙÙÙ٠٠اÙÙÙÙ Ø¨ÙØ°ÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ§ÙÙ Ø³ÙØ¨ÙØÙاÙÙÙ٠إÙÙÙ٠اÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙØ§Ø¦ÙÙÙØªÙÙÙ ÙÙØµÙÙÙÙÙÙ٠عÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ¨ÙÙÙÙ ÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙØ°ÙÙÙ٠آ٠ÙÙÙÙØ§ صÙÙÙÙÙØ§ عÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ ØªÙØ³ÙÙÙÙÙ ÙØ§ " Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù٠صÙÙÙÙ ÙÙØ³ÙÙÙÙÙ Ù ÙÙØ¨ÙارÙÙ٠عÙÙÙÙ Ù ÙØÙÙÙ ÙØ¯Ù Ø ÙÙØ¹ÙÙÙ٠آÙ٠بÙÙÙØªÙÙÙ Ø ÙÙØ¹ÙÙÙÙ Ø§ÙØµÙÙØÙØ§Ø¨ÙØ©Ù Ø£ÙØ¬ÙÙ ÙØ¹ÙÙÙÙÙ Ø ÙØÙØµÙÙ Ù ÙÙÙÙÙ٠٠اÙÙØÙÙÙÙÙØ§Ø¡Ù اÙÙØ£ÙØ±ÙØ¨ÙØ¹ÙØ©Ù Ø§ÙØ±ÙÙØ§Ø´ÙدÙÙÙÙÙ Ø Ø£ÙØ¨Ù٠بÙÙÙØ±Ù ÙÙØ¹ÙÙ ÙØ±Ù ÙÙØ¹ÙØÙÙ ÙØ§ÙÙ ÙÙØ¹ÙÙÙÙÙÙ Ø ÙÙØ§ÙتÙÙØ§Ø¨ÙعÙÙÙÙÙ ÙÙÙ ÙÙÙ ØªÙØ¨ÙعÙÙÙÙ Ù Ø¨ÙØ¥ÙØÙØ³ÙØ§Ù٠إÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ù Ø§ÙØ¯ÙÙÙÙÙÙ Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙ Ø£ÙØ¹ÙزÙ٠اÙÙØ¥ÙسÙÙØ§ÙÙ Ù ÙÙØ§ÙÙÙ ÙØ³ÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ø ÙÙØ£ÙذÙÙÙÙ Ø§ÙØ´ÙÙØ±ÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙÙ ÙØ´ÙرÙÙÙÙÙÙÙ Ø ÙÙØ¯ÙÙ ÙÙØ±Ù Ø£ÙØ¹ÙØ¯ÙØ§Ø¡Ù Ø§ÙØ¯ÙÙÙÙÙÙ Ø ÙÙØ§Ø¬ÙعÙÙÙ ÙÙØ°Ùا اÙÙØ¨ÙÙÙØ¯Ù Ø¢Ù ÙÙØ§Ù Ù ÙØÙÙ ÙØ¦ÙÙØ§ÙÙ ÙÙØ³ÙØ§Ø¦ÙØ±Ù بÙÙØ§Ùد٠اÙÙÙ ÙØ³ÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙ Ø£ÙØµÙÙÙØÙ Ø£ÙØ¦ÙÙ ÙÙØªÙÙÙØ§ ÙÙÙÙÙØ§Ùة٠أÙÙ ÙÙÙØ±ÙÙÙØ§ Ø ÙÙØ§Ø¬ÙعÙÙÙ ÙÙÙØ§ÙÙÙØªÙÙÙØ§ ÙÙÙÙÙ ÙÙÙ ØÙاÙÙÙÙ ÙÙØ§ØªÙÙÙÙØ§ÙÙ Ø¨ÙØ±ÙØÙÙ ÙØªÙÙÙ ÙÙØ§ Ø£ÙØ±ÙØÙÙ Ù Ø§ÙØ±ÙÙØ§ØÙÙ ÙÙÙÙÙ Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù٠إÙÙÙÙØ§ ÙÙØ³ÙØ£ÙÙÙÙ٠اÙÙØ¬ÙÙÙÙØ©Ù Ø ÙÙÙÙØ¹ÙÙÙØ°Ù بÙÙÙ Ù ÙÙ٠اÙÙÙÙØ§Ø±Ù Ø Ø§ÙÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙ Ø§Ø¬ÙØ¹ÙÙÙÙÙØ§ ÙÙØ¯Ùاة٠٠ÙÙÙØªÙدÙÙÙÙ٠غÙÙÙØ±Ù Ø¶ÙØ§ÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙØ§Ù Ù ÙØ¶ÙÙÙÙÙÙÙÙ Ø Ø±ÙØ¨ÙÙÙÙØ§ آتÙÙÙØ§ ÙÙÙ Ø§ÙØ¯ÙÙÙÙÙÙØ§ ØÙسÙÙÙØ©Ù ÙÙÙÙÙ Ø§ÙØ¢ØÙØ±ÙØ©Ù ØÙسÙÙÙØ©Ù ÙÙÙÙÙÙØ§ Ø¹ÙØ°Ùاب٠اÙÙÙÙØ§Ø±Ù. Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Silahkan Rujuk Info ini Bagi yang belum Membacanya *Berqurbanlah dan ini Syarat Syarat Hewan Qurban* ***** *Kumpulan Fatwa-Fatwa Ulama Seputar Shalat Ied* Segala puji bagi Alloh Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasululloh, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du Alloh Subhaanahu wa Taâala memerintahkan kita bertanya kepada para ulama jika kita tidak mengetahui, Dia berfirman, ÙÙØ§Ø³ÙØ£ÙÙÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙÙ Ø§ÙØ°ÙÙÙÙØ±Ù Ø¥ÙÙÙ ÙÙÙÙØªÙÙ Ù ÙÙØ§ ØªÙØ¹ÙÙÙÙ ÙÙÙÙ âMaka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,â Qs. An Nahl 43 dan Al Anbiya 7. Berikut kami hadirkan fatwa-fatwa ulama seputar shalat Ied yang kami terjemahkan dari media telegram Fawaid wa Durar dan situs , semoga Alloh menjadikan penerjemahan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allohumma aamin Ya Mujibas Sa'ilin. *Fatwa-fatwa ulama seputar shalat Ied* 1. Pertanyaan Apa pendapat Anda tentang hukum shalat Ied? Jawab Menurutku, shalat Ied hukumnya fardhu ain, dan tidak boleh bagi kaum lelaki meninggalkannya, bahkan mereka harus menghadirinya, karena Nabi shallallohu alaihi wa sallam memerintahkan untuk menghadirinya, bahkan memerintahkan kaum wanita baik yang gadis maupun yang dipingit untuk keluar ke lapangan shalat Ied. Beliau juga memerintahkan wanita haidh untuk keluar menuju lapangan shalat Ied, akan tetapi mereka menyingkir dari tempat shalat. Ini menunjukkan penekanannya. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa wa Rasail jilid 16, kitab Shalatul Iedain. Menurut kami, bahwa kaum wanita diperintahkan diperintahkan juga untuk shalat Ied menyaksikan kebaikan dan ikut serta dengan kaum muslimin yang laki-laki dalam shalat mereka serta dalam doa mereka. Akan tetapi wajib bagi mereka keluar tanpa mengenakan wewangian dan tidak bertabarruj bersolek, sehingga mereka dapat memadukan antara mengerjakan Sunnah Nabi shallollahu alaihi wa sallam dan menjauhi fitnah. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/211. 2. Pertanyaan Apa saja adab di hari raya? Jawab 1 Dianjurkan bertakbir, 2 memakan kurma dalam jumlah ganjil sebelum berangkat shalat Ied pada saat Iedul Fitri, 3 mengenakan pakaian yang indah, namun ini bagi kaum lelaki, adapun bagi wanita maka tidak mengenakan pakaian menarik ketika keluar ke lapangan shalat Ied, 4 mandi untuk shalat Ied, 5 mengucapkan selamat antara yang satu dengan yang lain, 6 bagi yang berangkat shalat Ied disyariatkan menempuh suatu jalan dan pulang melalui jalan yang lain. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/216-223 Thabrani dalam Al Kabir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Habib bin Umar Al Anshariy dari ayahnya, ia berkata, âAku pernah bertemu dengan Watsilah pada hari raya, lalu aku mengucapkan âTaqabbalallohu minna wa minka/minkumâ artinya semoga Alloh menerima amal ibadah kami dan kamu, lalu ia menjawab, âYa, taqabbalallohu minna wa minka/minkum,â Muâjam Kabir 22/52 3. Pertanyaan Apakah sunnahnya berangkat ke lapangan shalat Ied sambil berjalan ataukah menaiki kendaraan? Jawab Sunnahnya berjalan kaki kecuali jika butuh naik kendaraan, maka tidak mengapa. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/235. 4. Pertanyaan Apa hikmah menempuh jalan yang berbeda pada hari raya? Jawab 1 Mengikuti Nabi shallallohu alaihi wa sallam, karena ini termasuk sunnah Beliau 2 menampakkan salah satu syiar, dan itu merupakan salah satu syiar shalat Ied di seluruh pasar yang ada di suatu negeri, 3 memperhatikan penduduk pasar yang terdiri dari kaum fakir dan lainnya, 4 kedua jalan yang dilaluinya itu akan memberikan kesaksian untuknya pada hari Kiamat, Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/237. 5. Kapan takbir dimulai pada hari raya Idul Fitri, dan kapan berakhirnya? Jawab Takbir pada hari raya Idul Fitri dimulai dari sejak tenggelam matahari akhir bulan Ramadhan hingga imam datang untuk shalat Ied. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/259. 6. Pertanyaan Apa hukum shalat Ied di masjid? Jawab Makruh mengadakan shalat Ied di masjid-masjid kecuali ada uzur, karena sunnahnya adalah mengerjakannya di lapangan. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/230. 7. Pertanyaan Kapankah waktu shalat Ied? Jawab Waktu shalat Ied dimulai dari naiknya matahari setinggi satu tombak kira-kira 15 menit setelah syuruq/matahari terbit sampai tergelincir matahari Zhuhur, hanyasaja dianjurkan shalat Idul Adhha dimajukan, sedangkan shalat Idul Fitri ditunda berdasarkan riwayat bahwa Nabi shallallohu alaihi wa sallam melakukan shalat Iedul Adha ketika matahari setinggi satu tombak, dan melakukan shalat Idul Fitri ketika matahari setinggi dua tombak kira-kira setengah jam setelah syuruq -pent. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/229. 8. Pertanyaan Apa hukum mendahulukan khutbah Ied sebelum shalat? Jawab Mendahulukan khutbah Iedain sebelum shalat adalah bidâah yang diingkari oleh para sahabat radhiyallahu anhum. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/249. 9. Pertanyaan Apakah dalam pelaksanaan Ied ada dua kali khutbah atau satu kali? Jawab Sunnahnya khutbah Ied sekali saja, tetapi jika dilakukan dua kali maka tidak mengapa. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/248. 10. Pertanyaan Apakah dalam shalat Ied ada azan dan iqamat? Jawab Dalam shalat Ied tidak ada azan dan iqamat. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/237 11. Pertanyaan Apa hukum panggilan seperti Ash Shalatu Jamiâah, dsb. untuk shalat Ied? Jawab Panggilan untuk shalat Ied seperti yang disebutkan adalah bidâah yang tidak ada Ibnu Baz, Majmu Fatawa 23/13 Panggilan untuk shalat Iedain dengan ucapan âAsh Shalatu Jamiâahâ dan kalimat semisalnya tidak diperbolehkan, bahkan hal itu merupakan bidâah yang diada-adakan. Fatawa Lajnah Daimah 8/316 12. Pertanyaan Bagaimanakah tatacara shalat Ied? Rakaat pertama, dia bertakbir dengan takbiratul ihram, lalu membaca doa istiftah, kemudian bertakbir sebanyak enam kali. Setelah itu membaca surat Al Fatihah ditambah surat Al Aâla atau surat Qaaf pada rakaat pertama. Rakaat kedua, saat bangkit dari sujud ia bertakbir, kemudian bertakbir lagi sebanyak lima kali takbir ketika telah berdiri, lalu membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya. Jika pada rakaat pertama ia membaca surat Al Aâla setelah Al Fatihah, maka pada rakaat kedua ia membaca surat Al Ghasyiyah. Namun jika pada rakaat pertama ia membaca surat Qaaf setelah Al Fatihah, maka pada rakaat kedua ia membaca surat âIqtarabatis saâatu wansyaqqal qamarâ surat Al Qamar. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/223 13. Pertanyaan Apa hukum shalat Ied yang hanya membaca takbiratul ihram pada shalatnya? Jawab Shalatnya sah jika hanya membaca takbiratul ihram, karena takbir tambahan setelahnya adalah sunah. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/238 14. Pertanyaan Kapan dimulai membaca doa istiftah dalam shalat Ied? Jawab Dimulai membaca doa istiftah setelah takbiratul ihram. Namun dalam masalah ini ada kelonggaran, sehingga jika seseorang menundanya dan memulainya setelah takbir terakhir, maka tidak mengapa. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/240 15. Pertanyaan Apa bacaan antara masing-masing takbir dalam shalat Iedain? Jawab Tidak ada dzikir tertentu di antara takbir-takbir itu, tetapi ia bisa memuji Alloh, menyanjung-Nya dan bershalawat kepada Nabi shallallohu alaihi wa sallam dengan cara yang ia kehendaki, dan jika ia tidak membacanya juga tidak mengapa, karena hal itu hukumnya sunah. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/241 Disyariatkan baginya memuji Allah, mensucikan-Nya, mengagungkan-Nya, dan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam antara masing-masing takbir. Lajnah Daimah 8/302 16. Pertanyaan Apa hukumnya jika seorang lupa mengucapkan beberapa takbir setelah takbiratul ihram sehingga ia langsung membaca surat? Jawab Jika seorang lupa mengucapkan beberapa takbir dalam shalat Ied sehingga langsung memulai membaca surat, maka telah gugur terlewat, karena hal itu hanyalah suatu sunah yang terlewatkan, sebagaimana seseorang ketika lupa membaca doa istiftah, lalu ia langsung membaca surat, maka gugur pula membacanya. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/244. 17. Pertanyaan Apa hukumnya jika saya mendapatkan imam dan telah terlewatkan beberapa takbir tambahan? Jawab Jika engkau masuk dalam shalat bersama Imam di sela-sela takbir, maka terlebih dahulu bertakbirlah engkau sebagai takbiratul ihram, lalu sellebihnya ikutilah imam dan yang telah lewat menjadi gugur bagimu. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/245. 18. Pertanyaan Bagaimana jika seseorang tertinggal dari mengucapkan beberapa takbir dalam shalat Ied? Jawab Menjadi gugur baginya dan ia tidak perlu mengqadhanya. Demikian pula ketika ia lupa atau lupa sebagiannya sehingga langsung memulai membaca, maka ia tidak perlu membacanya, karena takbir itu hanya sunah dan telah lewat tempatnya. Adapun jika ia terlambat masbuq sehingga terlewatkan satu rakaat secara sempurna bersama imam, maka ia bertakbir dengan mengucapkan beberapa takbir rakaat yang tertinggal itu. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/241. 19. Pertanyaan Jika seorang masuk ke dalam shalat Ied, sedangkan imam telah selesai dari rakaat pertama, bagaimanakah mengqadhanya? Jawab Mengqadhanya setelah imam selesai salam sesuai pratek yang dilakukannya, yakni mengqadhanya dengan mengikuti takbir yang diucapkan imam. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/256. 20. Pertanyaan Apakah khatib memulai khutbah Ied dengan istighfar atau dengan takbir? Jawab Adapun dengan istighfar, maka tidak demikian, dan aku tidak mengetahui adanya ulama yang berpendapat demikian, sedangkan dengan tahmid atau takbir, maka para ulama berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat, dimulai dengan takbir, dan ada pula yang berpendapat, dimulai dengan tahmid. Namun dalam hal ini terdapat kelonggaran. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/248. 21. Pertanyaan Apa hukum menghadiri khutbah Ied? Jawab Menghadirinya tidak wajib. Barang siapa yang ingin menghadirinya, menyimak dan mengambil manfaat silahkan, dan barang siapa yang ingin pergi juga silahkan. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/249. 22. Pertanyaan Apakah sunnahnya khatib berdiri dalam shalat Ied ataukah duduk? Jawab Sunnahnya baik dalam khutbah Ied maupun khutbah Jumat adalah khatib berdiri. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/247. 23. Pertanyaan Apakah sunnahnya bagi imam berkhutbah di atas mimbar dalam shalat Ied? Jawab Sebagian ulama menganggap sunnah, namun ulama yang lain berpendapat bahwa lebih utama khutbah Ied tanpa mimbar. Namun dalam hal ini terdapat kelonggaran. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/250. 24. Apa hukum takbir secara jamaâi bersama-sama dalam hari raya? Jawab Takbir jamaâi dalam hari raya tidak disyariatkan. Sunnahnya adalah manusia bertakbir dengan suara keras, dimana masing-masing mereka bertakbir. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/268. 25. Pertanyaan Di tempat kami pada sebagian masjid seorang muazin mengeraskan takbir dengan pengeras suara, lalu orang-orang yang berada di belakangnya mengikuti ucapannya, apakah ini termasuk bidâah ataukah dibolehkan? Jawab Ini termasuk bidâah, karena yang sudak maklum dari petunjuk Nabi shallallohu alaihi wa sallam dalam hal dzikr adalah masing-masing orang berdzikir menyebut nama Alloh Subhanahu wa Taâala. Oleh karena itu, tidak sepatutnya keluar dari petunjuk Nabi shallallohu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ibnu Utsaimin, Asâilah wa Ajwibah fi Shalatil Iedain hal. 31. 26. Pertanyaan Seperti apa lafaz takbir dalam dua hari raya? Jawab Lafaznya âAllohu akbar, Allohu akbar, Laailaahaillallohu wallohu akbar, Allohu akbar walillahil hamdâ atau âAllohu akbar, Allahu akbar, Allohu akbar, Laailaahaillallohu wallahu akbar, Allahu akbar walillahil Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/259. 27. Pertanyaan Saya pergi ke lapangan shalat Ied, namun saya dapatkan imam telah selesai shalat Ied dan mulai melakukan khutbah Ied, apakah saya harus mengqadha? Jawab Barang siapa yang tertinggal shalat Ied berjamaah, maka dianjurkan baginya untuk mengqadhanya kapan saja, pada hari itu yang masih tersisa, besoknya, atau lusanya. Akan tetapi para Ahli Fiqih berbeda pendapat tentang tatacara mengqadhanya, ada yang berpendapat mengqadhanya empat rakaat dengan satu salam atau dua salam. Namun yang raiih kuat adalah pendapat jumhur mayoritas para Ahli Fiqih, yaitu bahwa shalat Ied diqadha sesuai praktek shalat Ied, sehingga engkau lakukan dua rakaat dengan tujuh kali takbir pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada rakaat kedua. Dan mengqadhanya bisa sendiri-sendiri atau berjamaah. Syaikh Dr. Hisam Affanah, Dosen Fiqih dan Ushul Fiqih di Univ. Al Quds, Palestina. 28. Apabila kaum muslimin telah melakukan shalat Ied atau istisqa di luar kota di lapangan, maka tidak disyariatkan bagi orang yang mendatangi lapangan melakukan shalat sunah terlebih dahulu, baik tahiyyatul masjid maupun lainnya. Hal ini merupakan bentuk pengamalan terhadap hadits dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma, bahwa Nabi shallallohu alaihi wa sallam pernah keluar ke lapangan pada hari raya Idul Fitri, lalu shalat dua rakaat, dan tidak melakukan shalat apa-apa baik sebelumnya maupun setelahnya. Akan tetapi jika shalat Iedain atau shalat istisqa ditegakkan di salah satu masjid di kota itu, maka tidak mengapa melakukan shalat tahiyyatul masjid saat masuk, tetapi ia tidak melakukan shalat sunah lainnya. Lajnah Daimah no. 12515. 29. Pertanyaan Apa hukum shalat Ied bagi musafir? Jawab Tidak disyariatkan bagi musafir melakukan shalat Ied, akan tetapi apabila musafir berada di suatu kota yang ditegakkan shalat Ied di sana, maka ia diperintahkan untuk shalat bersama kaum muslimin. Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa 16/236. Wallohu aâlam wa shallallohu âalaa Nabiyyina Muhammad wa âalaa alihi wa shahbihi wa sallam. Diterjemahkan Oleh *Dr. Abu Yahya Marwan Hadidi, I, I* Diedit & Muroja'ah/Koreksi *Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, I* *Referensi/Maraji'* Telegram Fawaid wa Durar, Maktabah Syamilah versi dll. Semoga bermanfaat info ini, Barokallohu fiikum. idulagha hariqurban khutbahieduladha Disclaimer Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku UU Pers, UU ITE, dan KUHP. Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel. Berita Terkait Terpopuler di Agama
Saat ini kita berada di salah satu hari raya umat Islam, yaitu Idul Adh-ha; hari di mana kita disyariatkan berkurban. Hari raya ini, Allah sebut dalam kitab-Nya dengan nama hari Haji Akbar lihat surah At Taubah 3. Disebut demikian, karena sebagian besar amalan haji dilakukan pada hari ini. Oleh karena itu, hari ini yakni hari nahr adalah hari yang paling agung di sisi Allah. Redaksi, *** بسم الله الرحمن الرحيم الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ يَقْضِيْ بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ وَيَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ ، يُقَدِّرُ اْلأُمُوْرَ بِحِكْمَةٍ ، وَيَحْكُمُ بِالشَّرَائِعِ لِحِكْمَةٍ وَهُوَالْحَكِيْمُ اْلعَلِيْمُ ، أَرْسَلَ الرُّسُلَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ، وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ اْلكِتَابَ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَااخْتَلَفُوْافِيْهِ ، وَلِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَيُؤْتُوْا كُلَّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ مِنْ غَيْرِغُلُوٍّوَلاَتَقْصِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَمَ تَسْليمًا Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat Id yang berbahagia! Pertama-tama marilah kita memanjatkan puja dan puji syukur kepada Allah yang telah melimpahkan kepada kita nikmat yang begitu banyak. Saking banyaknya nikmat yang diberikan, sehingga jika kita menghitung nikmat-nikmat-Nya tentu kita tidak akan sanggup menghitungnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita syukuri nikmat-nikmat tersebut agar nikmat tersebut tidak dicabut dan bahkan diberikan keberkahan sehingga bertambah. Sebaliknya, jika kita kufuri nikmat-nikmat tersebut, seperti tidak mau mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah atau menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya, maka cepat atau lambat, Allah akan mencabutnya ditambah lagi dengan dicatat sebagai dosa. Banyak contoh yang membuktikan hal ini, seperti yang dialami oleh kaum Saba’ yang Allah berikan kepada mereka kenikmatan dunia, saat mereka kufur terhadap nikmat yang Allah berikan, maka kenikmatan tersebut Allah cabut, Dia mengirimkan banjir besar kepada mereka dan mengganti kebun-kebun mereka yang sebelumnya menghasilkan buah-buahan yang enak dimakan berubah menjadi kebun-kebun yang buahnya terasa pahit. Demikian pula yang dialami Qarun yang dikaruniakan oleh Alah harta yang banyak. Ia tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut, bahkan mengatakan, bahwa kekayaan yang diperoleh itu adalah karena kepandaiannya, sehingga Allah membenamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi. Sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang mau mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain. Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat Id yang berbahagia! Saat ini kita berada di salah satu hari raya umat Islam, yaitu Idul Adh-ha; hari di mana kita disyariatkan berkurban. Hari raya ini, Allah sebut dalam kitab-Nya dengan nama hari Haji Akbar lihat surah At Taubah 3. Disebut demikian, karena sebagian besar amalan haji dilakukan pada hari ini. Oleh karena itu, hari ini yakni hari nahr adalah hari yang paling agung di sisi Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda إِنَّ أَعْظَمَ اْلأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ القَرِّ “Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Ta’ala adalah hari nahr 10 Dzulhijjah kemudian hari qar hari setelahnya.” HR. Abu Dawud dengan isnad yang jayyid, takhrij al-Misykaat 2810 Bahkan hari raya Idul Adh-ha lebih utama daripada hari Idul Fitri karena di hari Idul Adh-ha terdapat shalat Id dan berkurban, sedangkan dalam Idul Fitri terdapat shalat Ied dan bersedekah, dan berkurban jelas lebih utama daripada bersedekah. Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat Id yang berbahagia! Termasuk rahmat Allah dan kebijaksanaan-Nya adalah apabila Dia menyariatkan suatu amal saleh, Dia mengajak semua orang melakukannya, dan jika di antara mereka ada yang tidak sanggup melakukannya, maka Dia menyariatkan amal saleh yang lain sehingga mereka yang tidak mampu melakukannya tetap memperoleh pahala, di mana dengan amal saleh tersebut, Allah mengangkat derajat mereka dan menambah pahalanya. Contohnya adalah barangsiapa yang tidak mampu berwuquf di Arafah, maka Allah menyariatkan baginya puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah yang menghapuskan dosa yang dikerjakan di tahun yang lalu dan yang akan datang, demikian pula menyariatkan untuknya berkumpul pada hari Idul Adh-ha untuk shalat Ied, berdzikr, dan berkurban.. Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat Id yang berbahagia! Sesungguhnya di antara amalan yang disyariatkan Allah pada hari raya ini adalah berkurban. Berkurban adalah amalan yang utama, karena di sana seseorang mengorbankan harta yang dicintainya karena Allah; yang menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan kecintaan Allah daripada apa yang disenangi hawa nafsunya. Berkurban memiliki banyak hikmah, di antaranya adalah sebagai rasa syukur kepada Allah, membantu fakir-miskin dan menghibur mereka, merekatkan hubungan antara orang kaya dengan orang miskin, dan hikmah-hikmah lainnya yang begitu banyak. Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat Id yang berbahagia! Kurban merupakan sunah bapak para nabi, yaitu Ibrahim alaihis salam yang diperkuat oleh syariat yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dalam Alquran, Allah Ta’ala berfirman فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” QS. Al Kautsar 2 Sedangkan dalam hadis diterangkan, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun dan selalu berkurban.” HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Umar, ia Tirmidzi berkata, “Hadis hasan.” Menurut sebagian ulama, berkurban bagi yang mampu hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا “Barangsiapa yang memiliki kemampuan, namun tidak mau berkurban, maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami lapangan shalat Id.” Hadis hasan, Shahih Ibnu Majah 2532 Sedangkan yang lain berpendapat bahwa hukumnya sunat mu’akkadah sunat yang sangat ditekankan beralasan dengan hadis berikut إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ “Apabila kamu melihat hilal bulan sabit tanda tanggal satu Dzulhijjah, sedangkan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka tahanlah jangan dicabut rambut dan kukunya.” HR. Muslim Kata-kata “salah seorang di antara kamu ingin berkurban” menunjukkan sunatnya. Namun untuk kehati-hatian, hendaknya seorang muslim tidak meninggalkannya ketika ia mampu berkurban. Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat Id yang berbahagia Semua kebaikan dapat kita temukan ketika kita mempraktikkan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam semua urusan kita, sedangkan semua keburukan akan kita temukan ketika kita menyelisihi petunjuk Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami pun mengingatkan sedikit petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam masalah kurban. 1. Usia hewan yang dikurbankan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda لاَ تَذْبَحُوْا إِلاَّ مُسِنَّةً ، فَإِنْ تَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَاذْبَحُوْا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ “Janganlah kamu menyembelih kecuali yang musinnah. Namun jika kamu kesulitan, maka sembelihlah biri-biri domba yang jadza’ah.” HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu anhu Maksud “musinnah“ adalah hewan yang sudah cukup usianya. Jika berupa unta, maka usianya lima tahun. Jika berupa sapi, usianya dua tahun. Jika kambing, maka usianya setahun, dan tidak boleh usianya kurang dari yang disebutkan. Adapun jika berupa biri-biri/domba maka yang usianya setahun. Namun jika tidak ada biri-biri yang usianya setahun maka boleh yang mendekati setahun 9, 8, 7 atau 6 bulan, tidak boleh di bawah enam bulan –inilah yang dimaksud dengan jadza’ah-. 2. Hewan kurban yang utama Hewan kurban yang utama adalah hewan kurban yang gemuk, banyak dagingnya, sempurna fisik, dan indah dipandang. Anas radhiyallahu anhu berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor biri-biri yang putih bercampur hitam lagi bertanduk, Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya, mengucapkan basmalah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi hewan tersebut.” HR. Bukhari 3. Adab menyembelih Adabnya adalah dengan menghadap kiblat, mengucapkan basmalah dan takbir ketika hendak menyembelihnya dan berbuat ihsan dalam menyembelihnya seperti menyegarkan hewan sembelihannya, menajamkan pisau dan tidak mengasahnya di hadapan hewan tersebut. 4. Pembagian kurban Sunnahnya adalah orang yang berkurban memakan dari hewan kurbannya, menyedekahkannya kepada orang miskin dan menghadiahkan kepada kawan-kawannya atau tetangganya, berdasarkan firman Alah Ta’ala فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ “Maka makanlah sebagian daripadanya dan sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” QS. Al Hajj 28 Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا “Makanlah, berilah kepada orang lain dan simpanlah.” HR. Bukhari Namun tidak mengapa disedekahkan semuanya kepada orang-orang miskin. 5. Waktu berkurban Waktunya adalah setelah shalat Ied dan berakhir sampai tenggelam matahari tanggal 13 Dzulhijjah. Termasuk sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di hari raya Idul Adh-ha adalah makan tidak dilakukan kecuali setelah shalat Ied, lalu menyembelih hewan kurban dan memakan dagingnya. 6. Hewan yang tidak boleh dikurbankan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي اْلاَضَاحِي اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوَرُهَا, وَالْمَرِيضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا, وَالْعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْعَجْفَاءُ اَلَّتِي لَا تُنْقِي” “Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, yaitu hewan buta sebelah yang jelas butanya, hewan sakit yang jelas sakitnya, hewan pincang yang jelas pincangnya dan hewan kurus yang tidak bersumsum sangat kurus.” HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hasan shahih” 7. Bertakbir Pada hari raya Idul Adh-ha disunnahkan bertakbir, baik takbir mutlak maupun muqayyad. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” QS. Al Hajj 28 Hari yang ditentukan itu adalah hari raya haji dan hari tasyriq, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Takbir mutlak adalah takbir yang tidak dibatasi waktunya, yaitu mengucapkan, “Allahu akbar-Allahu akbar. Laailaahaillallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamd.” dengan menjaharkan suaranya bagi laki-laki, baik di masjid, di pasar, di rumah, di jalan dan pada saat ia berangkat ke lapangan untuk shalat Id. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang dilakukan setelah shalat fardhu, yang dimulai dari fajar hari Arafah, dan berakhir sampai Ashar akhir hari tasyriq. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya, maka beliau rahimahullah menjawab, “Segala puji bagi Allah. Pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur ulama dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq tanggal 11,12,13 Dzulhijjah, dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Hal ini merupakan kesepakatan para imam yang empat.” Majmu al -Fatawa 24220 Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya, bahwa Umar radhiyallahu anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina bergemuruh dengan suara takbir. Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat lima waktu, di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya. Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di masjid.” Termasuk hal yang perlu diketahui pula adalah bahwa pada hari-hari tasyriq kita diharamkan berpuasa kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hadyu. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ تَعَالَى “Hari tasyriq adalah hari makan, minum dan dzkrullah Ta’ala.” HR. Ahmad dan Muslim Demikianlah petunjuk singkat dalam menyambut Idul Qurban. Ma’aasyiral muslimin wal muslimaat Sidang shalat Id yang berbahagia Sebagai penutup, kami ingin menghibur saudara-saudara kami yang tidak mampu untuk berkurban, bahwa sesungguhnya niat mereka untuk berkurban dicatat pahala, dan mereka pun akan mendapatkan pahala kurban. Hal ini berdasarkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ketika menyembelih kurban bersabda بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي “Bismillah wallahu Akbar, ini kurban dariku dan dari umatku yang tidak menyembelih.” HR. Abu Dawud, Shahih Abu Dawud no. 2436. Kita memohon kepada Allah, semoga Dia memberikan kepada kita taufiq-Nya agar dapat mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, menjadikan kita istiqamah di atas takwa dan tidak meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan muslim, Allahumma amin. اللهم إنا نسألك أن تغفر لنا ذنوبنا وأ ن ترحمنا إنك أنت الغفور الرحيم، ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وأدخلنا الجنة مع الأبرار ، اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التي فيها معاشنا واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير والموت راحة لنا من كل شر, سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين. Download Naskah Materi Khutbah Jum’at [download id=”143″] Marwan bin Musa Kata kunci idul adha. Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. SPONSOR hubungi 081 326 333 328 DONASI hubungi 087 882 888 727 Donasi dapat disalurkan ke rekening 4564807232 BCA / 7051601496 Syariah Mandiri / 1370006372474 Mandiri. Hendri Syahrial Keterangan lebih lengkap Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur
khutbah idul adha hidayatullah